MA’HAD Al-JAMI’AH

(Model Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi Islam)

 

Asep Adi Ismanto

(Dosen Institut Agama Islam Negeri  Syekh Nurjati Cirebon)

___________________

 

 Abstrak  

 Tulisan  ini  akan  memfokuskan  kajian  pada  sistem pembelajaran  bahasa Arab ma’had al-jami’ah  yang  selama  ini  disinyalir  sebagai sistem  yang  efektif  dalam pembelajaran bahasa asing karena pembelajaran berlangsung  secara alamiah seperti halnya seorang yang belajar bahasa ibunya atau bahasa pertamanya selama  sehari  penuh bahkan selama kurang lebih 24 jam dan sistem yang integral karena pembelajarannya menyentuh ranah kognitif, afektif dan psikomotorik secara bersamaan. Melalui tulisan ini akan diekplorasi lebih jauh berkenaan dengan sistem pembelajaran bahasa Arab ma’had’ al-jami’ah , seperti pengertian dan asal usul ma’had al-jami’ah, pola, prinsip-prinsip pembelajaran bahasa Arab model ma’had al-jami’ah, komponen pendukung pembelajaran bahasa Arab pada sistem ini serta impilkasinya dalam pembinaan kecakapan berbahasa Arab di perguruan tinggi islam dan  sisi keunggulan dan kelemahan apa yang terdapat pada  sistem  ini.

Key word:

 Ma’had Al-jami’ah, Pembelajaran, Bahasa Arab

____________________________


A.    Pendahuluan

Dalam persaingan  global pada saat ini, eksistensi  suatu  bangsa  ke  depan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Bangsa yang menyadari  peran  SDM  tersebut  akan  senantiasa  berupaya  secara  optimal untuk mewujudkan  sumber daya manusia yang berkualitas  dengan senantiasa melakukan  desain inovatif  dalam pola pembinaan sumber daya manusia.  Dalam  hal  ini  penataan  lembaga  pendidikan  formal  (Perguruan Tinggi Islam)  mendapatkan  prioritas  utama,  sebab diyakini  bahwa  perguruan tinggi  merupakan  lembaga  efektif  dalam  transformasi peradaban. Namun  dalam  batas  tertentu,  kurikulum  perguruan tinggi  didesain  untuk mempertahankan status quo rezim tertentu, sehingga misi transformatif menjadi  terpinggirkan.  Inovasi  yang  dilaksanakan  adalah  inovasi  semu yang  hanya  menyentuh  hal-hal  instrumental,  tidak menyentuh hal yang fundamental substansial.

Salah  satu  kendala  yang  paling  menyolok  dari  sumber  daya manusia kita adalah minimnya penguasaan bahasa asing (Bahasa Arab).  Padahal  penguasaan  bahasa Arab tersebut menjadi  prasyarat  mutlak  untuk  mengakses  sumber  informasi  mutakhir dan sumber kajian keislaman dari para ulama terdahulu sampai kontemporer yang mana banyak ditulis melalui bahasa Arab.

Seperti yang diungkapkan oleh bulkisah bahwa bahasa Arab sebagai sarana  komunikasi  antar  bangsa-bangsa  di  dunia  terutama  persatuan  umat Islam  sedunia,  bahasa  Arab  menempati  posisi  yang  strategis  karena  dapat  menunjang pemahaman  ajaran  agama  Islam itu  sendiri. maka  pembelajaran bahasa Arab di tingkat perguruan tinggi agama Islam menjadi sebuah keharusan karena selain merupakan  transformasi ilmiah dari khasanah intelaktual priode klasik, pertengahan dan modern, bahasa Arab juga dipakai sebagai bahasa ilmiah, akademis sekaligus bahasa popular (Bulkish, 2012:307).

Hal tersebut terjadi disamping mutu  sumber daya manusia  pengelola  pendidikan  kurang  memadai  juga karena  sistem  pengelolaan  pengajaran  yang  tidak  diorientasikan  pada penguasaan  bahasa  Arab.  Penguasaan  mahasiswa  terhadap  bahasa Arab dalam  batas  tertentu lebih  disebabkan  oleh  usahanya  sendiri (belajar mandiri). Menyadari  bahwa  bahasa  Arab merupakan  akses  pokok dalam  mewujudkan  SDM  berkualitas paling  tidak  ditinjau  dari  segi akses  informatif  para  pemikir  dan  praktisi  pendidikan  mulai  berikhtiar guna  meningkatkan  kemampuan  berbahasa  asing  para  mahaasiswanya.  Salah atunya  adalah  merintis  Ma’had Al-jami’ah dengan  mengembangkan  sistem asrama  yang  tersentralisir  dengan  mengadaptasi  sistem  pesantren seperti  Gontor,  Al-Amin,  dan  pesantren  lain  yang  dianggap  berhasil dalam  menerapkan  bahasa  Arab  sebagai  bahasa  komunikasi  sehari-hari.

 

 

B.     Pembahasan

1. Pengertian dan Asal Usul Ma’had al-Jami’ah

Dalam kamus al-Ashri kata ma’had berarti lembaga pendidikan, Sedangkan al-jami’ah berarti perguruan tinggi. (Atabik Ali, 2012: 646).  Akan tetapi kata ma’had di indonesia lebih dikenal dengan pesantren. Penamaan  ma’had  untuk  bangunan  tempat  tinggal  mahasiswa  adalah dikarenakan  ingin  memberikan  kesan  yang  berbeda.

Istilah, “asrama” berkonotasi hanya sebagai tempat pindah tidur bagi mahasiswanya. Tidak  juga  dinamakan  dengan  “pondok  pesantren  (ponpes)”.  Walaupun secara  budaya,  term  “ma’had”  dapat  mengacu  pada  “ponpes”. Penamaan  istilah  ini  lebih  ditekankan  bahwa  “ma’had”  itu  bukan  hanya  sekedar “ponpes”, tempat mengaji kitab klasik sebagaimana umumnya. Namun lebih dari  itu,  yaitu  kolaborasi  antara  sistem  salafi  dengan  sistem  modern. (Taufiqurahman, 2010: 169), “payung  makna”  yang  sama  dengan  term  “Ma’had  Jami’ah”.  Di antaranya  adalah  “Kos”,  “Pondok  Pesantren”,  “Asrama”  dan  “Rusunawa (Rumah Susun Mahasiswa)”. Kesemua leksikon tersebut tercakup dalam satu makna besar, “tempat tinggal mahasiswa (TTM)”. Tentunya, term-term tersebut bersifat lokal universal. Artinya bisa sangat luas,  namun  juga  dapat  bersifat  lokalitas,  hanya  merujuk  pada  pemakainya.

Leksikon kos  semakna dengan indekos. Yang dimaksud  kos  adalah  tinggal  di  rumah  orang  lain  dengan  atau  tanpa  makan (dengan membayar setiap bulan). Kemudian leksikon  pondok  pesantren  adalah  madrasah  dan  asrama  (tempat  mengaji,  belajar  agama Islam).

Definisi ini tentu sangat umum, dan mampu mencakup semua varian pondok pesantren, kemudian  asrama  adalah  bangunan  tempat tinggal  bagi  kelompok  orang  untuk  sementara  waktu,  terdiri  atas  sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala asrama, sedangkan rusunawa (rumah susun mahasiswa). Leksikon ini bermakna gedung atau bangunan bertingkat terbagi atas beberapa tempat tinggal (masing-masing untuk satu keluarga); flat. Namun, tentu yang tinggal di  dalamnya  bukan  sembarang  orang,  akan  tetapi  hanya  mahasiswa  sebuah perguruan tinggi.

Pada  sisi  yang  lain,  pendidikan  tinggi  -khususnya  perguruan  tinggi sebagai  sebuah  institusi  pendidikan  mulai  banyak  dipertanyakan efektifitasnya, terutama dalam aspek kemampuan berbahasa asing.  Banyak  pihak  menilai  bahwa  sumber  permasalahannya  adalah miskinnya  orientasi.   Adalah  ironi,  apabila  kuantitas  lembaga-lembaga pendidikan  tinggi  yang  terus  melaju  tinggi,  justru  berbanding lurus  dengan rendahnya kemampuan bahasa asing mahasiswa yang mengakibatkan lemahnya wawasan pengetahuan mahasiswa yang bersumber dari aslinya dan hanya mengandalkan sumber-sumber bentuk terjemahan.

Dari  dua  sisi  kenyataan  di  atas,  menghadirkan  pesantren  di  kampus maupun mendirikan  kampus  di  pesantren  (secara  sederhana  dapat  disebut mempesantrenkan  kampus  dan  mengkampuskan  pesantren)  adalah  sebuah ikhtiar yang masuk akal, aktual dan ideal. Dan agar tidak berhenti pada jargon semata  dan  sekaligus  sebagai  sarana  untuk  menjamin  berlangsungnya transformasi  nilai-nilai  luhur  pesantren  dari  dan  kepada  nilai-nilai  unggul

Kampus  secara  integratif  maka  kehadiran  fisik  pesantren  menjadi  sangat urgent.  Salah  satu  ikhtiar  menuju  ke  sana  adalah  dengan  mendirikan  dan mengelola pesantren kampus bernama Ma’had Jami’ah.

Dari perspektif historis, sistem pembelajaran ma’had al-jami’ah sesungguhnya bukan hal baru. Sistem ini telah lama diterapkan dalam tradisi pesantren melalui sistem asrama atau pondok, meskipun dalam bentuknya yang sangat sederhana. Bahkan jika ditarik ke belakang, sistem asrama telah dipraktikkan sejak masa pengaruh Hindu-Budha pra-Islam. (Karel A, 1994: 20). Sistem asrama dalam tradisi pe­san­tren sangat kaya dengan pen­didikan utuh dan integral yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan formal lainnya. Lebih jelas Qodri Azizy menilai: “Di dalam lembaga pendidikan pada umumnya sering dikecewakan lantaran hanya mampu mewujudkan segi kognitif, se­men­tara sangat lemah dan terkadang nihil segi afektif dan psiko­motoriknya. Di pesantren ketiga bidang tersebut akan selalu dapat di­prak­tikkan dengan modal sistem 24 jam tadi. Justru sangat meng­utamakan pengamalan, oleh karena suatu ilmu tanpa ada pengamalan dicap sebagai yang tak bermanfaat” (Qodri Azizi, 2000: 105).

Dengan diilhami oleh kelebihan sistem pondok/asrama dalam tradisi pesantren, sejumlah perguruan tinggi mulai melakukan inovasi perse­ko­lahan melalui perintisan ma’had al-jami’ah yang dalam hal-hal tertentu sangat mirip dengan pesantren dengan sejumlah modifikasi. Dengan demikian, konsep ma’had al-jami’ah merupakan modernisasi, bahkan sis­tema­tisasi atau modifikasi dari tradisi pesantren, yang dalam batas tertentu pesantren kurang menyadari substansi pola kependidikan yang diaplikasikannya karena sudah menjadi sebuah tradisi yang melekat secara inhern dalam proses transformasi keilmuanya. Karena­nya,  ma’had al-jami’ah dalam aplikasinya bisa saja tetap memper­tahankan for­mat tradisi pesantren, namun tradisi yang telah tersadar­kan akan substansinya.

 

2. Pola Pembelajaran Bahasa Arab dalam Program Ma’had Al-jami’ah

            Program ma’had al-jami’ah dapat  dilaksanakan  dengan  sarana  dan  prasarana yang  relatif  terbatas.  Yang  sangat  dibutuhkan  sesungguhnya  adalah tingkat  komitmen  dan  kesungguhan  pengelola  dalam  mewujudkan  sistem demikian. Hal ini tidak  berarti prasarana dan sarana tidak  penting. Keberadaan prasarana  dan sarana apalagi  lengkap dan  memadai amat menentukan terhadap efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.

            Proses pembelajaran yang ada di ma’had al-jami’ah berlangsung selama 24 jam termasuk pembelajaran bahasa Arab yang sangat menekan pengamalan atau praktik berbahasa. Proses pembelajaran bahasa Arab dalam program ma’had al-jami’ah ini bersadar pada teori krahsen yaitu Pemerolehan bahasa (language acquisition) dan pembelajaran bahasa (Language learning). Language acquisition adalah proses penguasaan bahasa kedua secara alamiah melalui bawah sadar dengan cara berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut. Sedangkan language learning adalah proses penguasaan bahasa secara sadar terutama tentang kaidah-kaidah bahasa dengan cara diajarkan oleh seorang guru atau belajar secara mandiri. (Ahmad Fuad Efendi, 2000: 221).

Dalam hal ini program pembelajaran bahasa lebih menekankan pada pemerolehan bahasa yang mana diharapkan mahasiswa dapat menguasai bahasa Arab secara alamiah melalui bawah sadar, maka program tersebut lebih berupaya membentuk semacam suasana dimana para mahasiswa dapat berkomunikasi sesama mereka dengan menggunakan bahasa Arab secara aktif atau yang lebih dikenal dengan lingkungan bahasa.

Lingkungan Bahasa dalam hal pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua dirumuskan Dulay sebagai segala sesuatu yang didengar dan dilihat oleh pembelajar tentang bahasa baru yang dipelajari (everything the language learner hears and sees in the new language). (Heidi Dulay, 1982:13).

Dan untuk menunjang itu semuanya program ma’had al-jami’ah membuat beberapa kegiatan diantara yaitu:

1. Muhadharah

Yaitu latihan berpidato dengan menggunakan bahasa Arab yang dilaksanakan 1 kali dalam seminggu. Mahasiswa  dibagi dalam beberapa kelompok yang dibimbing oleh mahasiswa senior yang menjadi musyrif asrama dan diasuh langsung oleh Dosen Pembimbing. Selain untuk menumbuhkan sikap percaya diri, melalui muhadharah ini anak didik dapat membiasakan diri berpidato dengan Bahasa Arab.

2. Al-Insya’ Al-Yaumi

“Daily Composition” ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis dengan baik. Setelah mendapat pengarahan-pengarahan yang menyangkut teknis pelaksanaan kegiatan ini, mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok dan langsung dibimbing oleh Dosen-dosen pembimbing.

3.  Majalah dinding

Majalah dinding ini diterbitkkan oleh mahasiswa sendiri sebagai sarana untuk  peningkatan Bahasa Arab secara teratur untuk tiap-tiap asrama, antar klub-klub bahasa setelah dikoreksi oleh para dosen pembimbing.

4. Penyebaran kosa kata baru dengan tulisan yang diletakkan di tempat-tempat strategis.

5. Mendengarkan ceramah-ceramah dan pengumuman-pengumuman dalam Bahasa Arab, baik di masjid maupun di asrama.

6. Mendatangkan tamu-tamu “native speaker”.

7. Pelatihan Bahasa Arab di Laboratorium Bahasa

8. Motivasi demonstratif dengan Bahasa Arab oleh Bapak Kyai (Direktur Asrama) dan dosen-dosen pembimbing.

9. Inventarisasi istilah-istilah Bahasa Arab dari seluruh kegiatan mahasiswa, yang meliputi :

a.       Olah raga

b.      Kesenian

c.       Kantin

d.      Kelas

e.       Kamar mandi

f.       Dapur

g.      Kendaraan

10. Pementasan drama dengan Bahasa Arab di setiap asrama

11. Penerbitan brosur mingguan dalam Bahasa Arab yang dibagikan kepada setiap mahasiswa.

 

3. Prinsip Pembelajaran Bahasa Arab di Program Ma’had Al-jami’ah

Untuk membentuk suasana pembelajaran bahasa Arab yang lebih komunikatif  maka penataan lingkungan bahasa dalam program ini dikembangkan pada prinsip-prinsip berikut ini: (Rita, 2010:25)

a.    Prinsip merefleksikan selera Anak

    Maksudnya adalah bahwa lingkungan bahasa Arab menarik bagi anak. Maka dalam penyediaan dan pengemasan lingkungan bahasa tersebut harus dipertimbangkan karakteristik, perasaan, minat dan dinamika belajar anak atau siswa. Dengan kata lain, lingkungan bahasa Arab yang diciptakan diselaraskan dengan tahapan-tahapan perkembangan dan cara-cara khas belajar anak.

b.    Prinsip berorientasi pada optimalisasi perkembangan dan belajar anak

Prinsip ini mengandung arti bahwa perkembangan dan hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai, terbaik dan bermakna bagi kehidupan anak. Lingkungan tersebut mempunyai ciri-ciri berikut ini

a.         Dapat mengembangkan seluruh dimensi perkembangan anak secara holistic.

b.        Tidak hanya mengarahkan aktivitas belajar bahasa anak sesaat, tetapi mengarahkan anak menjadi pembelajar sepanjang hayat

c.         Dapat membantu anak belajar bukan hanya mengingat segala pengalaman belajarnya sesaat, tetapi juga dapat memberikan lompatan memori yaitu dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

d.        Dapat mrncipatakan suasana dan aktivitas yang menyenangkan, nyaman, aman dan lebih alamiah.

e.         Mengarahkan pengorganisasian pesan-pesan pembelajaran , baik bernuansa kognitif, afektif maupun psikomotorik.

c.         Prinsip berpijak pada efisiensi pembelajaran.

Maksud dari prinsip ini adalah bahwa kegiatan pembelajaran dilakukan secara produktif dan tepat guna, baik dilihat dari segi waktu, energy, maupun uapaya yang dilakukan.

Berdasarkan prinsip-prinsip di atas maka program ma’had al-jamiah lebih  memungkinkan  terwujudnya pembelajaran bahasa Arab dan pendidikan utuh. Benyamin S. Bloon  menyatakan  bahwa sasaran (objectives)  pendidikan  meliputi  tiga  bidang  yakni  kognitif,  afektif, dan psikomotorik. Pada  lembaga pendidikan konvensional,  sering di kecewakan  karena  hanya  mampu  membentuk  segi  kognitif,  namun sangat  lemah bahkan  nihil pada  segi  afektif  dan  psikomotoriknya.

Melalui sistem berasrama atau  program ma’had al-jami’ah  tendensi  ke arah penguatan  pada  sisi  kognitif  saja  dapat  lebih  dihindarkan,  dalam  arti aspek  afektif  siswa  dapat  lebih  diarahkan.  Demikian  juga  aspek psikomotoriknya.

4. Komponen Penunjang Pembelajaran Bahasa Arab di Program Ma’had Al-jami’ah

Menurut Ansori sistem sekolah berasrama terutama  yang  lebih  berorientasi  pada penguasaan  bahasa  asing dalam hal ini bahasa Arab  paling  tidak  membutuhkan 2 komponen  (perangkat) yaitu perangkat lunak (sofware) dan perangkat keras (Hardware). (Nurhasan, 2006: 114)

1.  Perangkat  Lunak  (softwere).

 Perangkat lunak  yang  dibutuhkan  dalam  pelaksanaan Pembelajaran bahasa Arab di Program Ma’had Al-jami’ah  antara  lain adalah  komitmen  dan  kesungguhan  pengelola  yang  diwujud-nyatakan dalam tata aturan yang ditegakkan secara konsisten dan aplikasi sanksi yang  juga  konsisten  sekaligus  tegas. Disamping itu juga menurut Fuad Efendi bahwa dalam membentuk lingkungan bahasa alamiah yang mendekati lingkungan bahasa Arab yang sesungguhnya haruslah adanya SDM yang memiliki kompetensi komunikatif  bahasa Arab baik lisan maupun tulis, mereka menjadi model sekaligus penggerak aktifitas kebahasa Araban.

Sedangkan menurut Kiyai Syukri Zarkasyi bahwa untuk memantau seluruh aktivitas yang berlangsung, khususnya dalam proses pembelajaran Bahasa Arab, maka dibentuklah Team Khusus yang langsung diarahkan, dibimbing, dan dikontrol oleh Bapak Pimpinan/Bapak Kyai dan para pembantu beliau. Team tersebut terdiri dari dua jenjang :

Pertama: Terdiri dari para guru yang berfungsi sebagai motivator sekaligus pengontrol seluruh kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan dan pengembangan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.Team ini dinamai : Language Advisory Council (al-Hai’ah al-Istisyariyah li-Tarqiyatil-Lughoh).

Kedua: Terdiri dari anak didik/santri senior yang langsung menangani pengembangan Bahasa Arab dan Inggris di setiap asrama. Team ini tergabung dalam : Central Language Encouragement (Al-Maktab Al-Markazy li Tasji’I-l-Lughah).

2. Perangkat  Keras  (hardwere).

Perangkat  keras  yang  dibutuhkan  dalam  Program Ma’had Al-jami’ah  adalah adanya  sarana  yang  sangat  memungkinkan  diaplikasikan  pengawasan komitmen siswa terhadap aktivitas siswa yang diarahkan sesuai dengan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan. Dalam pembelajaran bahasa yang berbasis lingkungan bahasa Fuad Efendi mengemukan beberapa strategi yang  merupakan sarana supaya peserta didik (Mahasiswa) mampu berkomunikasi dalam bahasa Arab secara alamiah diantaranya yaitu:

a.    Lingkungan Bicara

Yaitu memciptakan lingkungan yang menggunakan bahasa Arab dalam interaksi sehari-hari secara bertahap.

b.    Lingkungan Pandang-baca

Menciptakan lingkungan ini relative lebih mudah dan apabila dirancang dengan baik, maka dapat memberikan efek yang cukup kuat bagi pemerolehan bahasa siswa.

 

 

c.    Lingkungan Dengar

Menciptakan lingkungan ini bisa dilakukan dengan menyampaikan pengumuman-pengumuman lisan dalam bahasa Arab.

d.   Lingkungan Pandang-Dengar

Lingkungan ini bisa diciptakan dengan memanfaatkan teknologi informasi, misalnya menampilakan tayangan telivisi Arab dan sebagainya.

e.    Kelompok Pecinta Bahasa Arab

Pembentukan kelompok-kelompok pecinta bahasa Arab dengan berbagai aktivitas yang bernuansa Arab.

f.     Penyelenggaraan Pekan Arabi

Membuat suatu kegiatan yang beraneka ragam tapi semuanya bernuansa bahasanya Arab, contohnya; lomba pidato, lomba kaligrafi dan lain-lain.

g.    Self Access Centre

      Penyedian ruang atau semacam sanggar bahasa Arab, dalam wujud yang paling lengkap, ruang atau sanggar teresbut dinamai Self Acces Centre (SAC). Sesuai dengan namanya, SAC adalah pusat untuk mengakses (Ahmad Fuad Efendi, :226).

 

5. Implikasi Sistem Ma’had al-Jami’ah dalam Pembinaan Kecakapan Berbahasa Arab.

Ada beberapa hipotesa dalam pembelajaran bahasa pada umumnya dan pembelajaran bahasa Arab pada khususnya, diantaranya adalah Identity Hypothesis, (Moh. Matsna, 2010: 21) yaitu suatu anggapan yang menyatakan bahwa ada kesamaan dalam proses pemerolehan bahasa pertama dan pembelajaran bahasa asing (kedua). Menurut Rusydi Ahmad Thuaimah kesamaan proses antara pemerolehan bahasa dan belajar bahasa asing (kedua) disimpulkan dalam hal-hal berikut:

a.       Pembiasaan

Bahasa adalah kebiasaan, oleh karena itu penguasaan suatu bahasa harus menjadikan bahasa sebagai suatu kebiasaan.

b.      Peniruan.

Mendengar dan meniru adalah proses alamiah dalam pembentukan kebiasaan berbahasa dalam bahasa apapun.

c.       Pemahamaman.

Dalam kemampuan untuk berujar dalam bahasa semestinya mendahulukan pemahaman sebelum mengujarkan.

d.      Urutan keterampilan bahasa

Dalam keseharian berbahasa bahwa keterampilan menyimak didapatkan terlebih dahulu daripada keterampilan bahasa yang lain. Keterampilan menyimak, kemudian berbicara, membaca dan menulis.

e.       Pembelajaran Grammar

Setiap bahasa tidak lepas dari system yang disepakati oleh pemiliknya, maka grammar atau tata bahasa harus dikenalkan, namun pengenalan aturan bahasa diterapkan setelah bahasa tersebut digunakan dalam keseharian. (Rusydi Ahmad Tuaimah, 2008:75-76).

Berdasarkan pola dan perinsip pembelajaran bahasa Arab di program ma’had al-jami’ah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Arab di program ma’had al-jami’ah telah menerapkan Identity hypothesis sehingga para mahasiswa dalam penguasaan bahasa Arab berlangsung seperti halnya penguasaan bahasa ibu mereka, berlangsung secara alami

Ma’had al-jami’ah dengan mekanisme pembelajarannya yang tersentralisir  merupakan  wadah  paling  efektif  dalam  menanamkan  kemam puan  berbahasa  Arab  pada  para mahasiswa. Melalui tahapan-tahapan proses antara pemerolehan bahasa dan belajar bahasa asing (kedua)  yang diajukan oleh thuaimah, dan melalui interaksi  pembelajaran yang  aktif,  kreatif,  intensif,  integratif  yang  dikemas  dalam  sistem asrama  tersentralisir  dan  sistem  pengawasan atau  lebih  tepatnya pembinaan 24jam, Program tersebut akan  menjadi  sistem  pembelajaran

yang  sangat  signifikan  untuk  dikembangkan  dalam  proses  transformasi pendidikan.

 

6. Keunggulan dan Kelemahan Program Ma’had Al-jami’ah

Dalam program ma’had al-jami’ah pembelajaran bahasa Arab lebih bermakna disebabkan para mahasiswa dihadapkan langsung dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan. Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan program tersebut sebagai  model alternatif pembelajaran bahasa Arab, antara lain :  

a.    Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi 

b.    Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan langsung dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami 

c.     Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat 

d.   Kegiatan belajar lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, dan menguji fakta 

e.    Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari sangat beraneka ragam

f.     Siswa juga lebih dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk rasa cinta akan lingkungan. 

Sedangkan kelemahan dari penggunaan program ini sebagai  model alternatif pembelajaran bahasa Arab antara lain

a.    Keterbatasan dari lingkungann bahasa yang ada di program ini yang disadari oleh kebanyakan para pembelajar adalah bahwa pengetahuan bahasa tidak selalu menjamin seseorang untuk mampu menggunakannya dalam situasi komunikasi yang sebenarnya. Hanya saja sebagian pembelajar merasa lebih nyaman menggunakan bahasa dalam berkomunikasi ketika mereka mengetahui dengan sadar aturan-aturan tata bahasa.

b.    Tidak adanya sikap positif kepada bahasa Arab dan komitmen bersama yang kuat disebagian lembaga pendidikan yang membentuk program ma’had al-jamiah untuk memajukan pengajaran bahasa Arab dengan membentuk lingkungan berbahasa dari pihak-pihak terkait yaitu; dosen  bahasa Arab itu sendiri dan pimpinan lembaga.

Untuk menghasilkan siswa mampu berbahasa secara maksimal proses penggunaanya memerlukan waktu yang relative lama

 

C.    Penutup

Program ma’had al-jami’ah adalah  sebagai  salah  model  alternatif  sistem  pembelajaran  bahasa  Arab,  yang   menerapkan  proses  pembelajaran  yang berlangsung secara alamiah dibawah sadar para peserta didik (Mahasiswa), berlangsung selama sehari  penuh  bahkan  selama  kurang  lebih  24  jam.  Proses  pembelajaran dalam  program  ini  berusaha  mengembangkan  secara  integral:  jiwa  eksploratif,  suka  mencari,  bertanya,  menyelidiki,  merumuskan  pertanyaan, mencari  jawaban,  peka  menangkap  gejala  alam  sebagai  bahan  untuk menghubungkan  diri, dan juga dalam dalam pemerolehan bahasanya berlangsung seperti seorang anak yang memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.

Memperhatikan sejumlah keunggulan sistem ma’had al-jami’ah dan keberhasilan salah satu lembaga perguruan tinggi islam atau beberapa pesantren yang  telah menerapkan  program  ini, maka dengan  tidak  menutup  mata  atas  kelemahan  yang  dimiliki sangat  wajar  apabila  sistem  ini  menjadi  model  alternatif  pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi islam yang lain di seluruh indonesia. ***

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Atabik dan A, Zuhri Muhdlor, Kamus Besar Al-‘Ashri, (ebook disusun oleh Asad bin Abdurrahim bin Ayyub).

 

Bulkisah, Pembelajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA,VOL. XII NO. 2 Februari 2012.

 

Azizy, A. Qadri, Islam dan Permasalahan Sosial: Mencari Jalan Keluar, Yogyakarta:: LKiS, 2000.

 

Dulay, Heidi, Marina Burt dan Stephen Krashen, Language Two, New York: Oxford University Press, 1982.

 

Efendi, Ahmad Fuad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab,Malang: Misykat. 2012.

 

Mariyana, Rita, et.al, Pengelolaan Lingkungan Belajar, Jakarta,Kencana Prenada Media Group, 2010.

 

Moh, Matsna,HS, Efektifitas Pengajaran Bahasa Arab dengan Pendekatan Identity Hyphothesis, ( Paper dipresentasikan dalam Seminar dan Workshop Pembelajaran Bahasa Arab dalam Rangka Peningkatan Kompetensi Dosen Pusat Bahasa dan Budaya di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 10 Mei 2010)

 

Norhasan, Fullday School, Model Alternatif Pembelajaran Bahasa Asing, Jurnal Tadris, volume  Nomor 1, 2006.

 

Steembrink, Karel A., Pesantren, Madrasah dan Sekolah; Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen, Jakarta : LP3ES, 1994.

 

Taufiqurrochman, leksikologi Bahasa Arab, Malang: UIN Malang Press, 2010.

 

Thu’aimah, Rusydi Ahmad, et.al, Ta’li>mul ‘Arabiyyah Ligairi An-natiqi>na Biha>, Makkah: Mamlakah As-su’udiyah, cet-3, 2008.

 

Zarkasyi, Abdullah Syukri, Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Modern Gontor, (Paper dipresentasikan dalam seminar nasional tema “ Seminar Pengembangan Bahasa Asing (Arab/Inggris) di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Sabtu, 20 April 2002).