IMPLIKASI TUGAS DAN KEWAJIBAN HIDUP MANUSIA

DALAM KONTEKS PENDIDIKAN

 

Dian Widiantari

 (Dosen Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon)

 


Abstrak

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna secara fisik dan psikis. Kesempurnaan manusia karena akal fikirannya yang tidak dianugerahkan Allah kepada makhluk lain. Begitulah Allah memuliakan manusia yang abadikan dalam al Quran. Bukan suatu hal yang sia-sia Allah menciptakan manusia di muka bumi, melainkan ada tugas dan kewajiban yang harus di emban oleh manusia. Menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Al Quran merupakan tugas manusia di muka bumi selain ada suatu perintah ketaatan untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Tugas dan kewajiban hidup manusia harus berimplikasi terhadap pendidikan. Pendidikan harus diorientasikan pada proses pengembangan kepribadian yang utuh dan seimbang sebagaimana tujuan pendidikan yang dikehendaki. Dalam konteks pendidikan, kepribadian yang seimbang akan tercapai bila terpenuhinya domain-domain secara seimbang yaitu fisik-biologis dan mental-moral-spiritual. Pendidikan merupakan proses penyadaran akan fungsi-fungsi kemanusiaan manusia yang memiliki tugas dan kewajiban sebagai ábd Allah dan khalifah Allah

Key Word:

Quran, manusia, tugas, kewajiban, pendidikan

 

 



A.    Pendahuluan

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna, seperti yang tersurat dalam QS. at tin, 95:4 sebagai berikut:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [1]

            Kata sempurna di atas mengacu kepada sempurna potensi jasmani dan rohani. Allah menciptakan manusia dengan sempurna karena manusia akan diberikan sebuah tugas dan kewajiban yang sangat besar dalam memakmurkan bumi sebagai tempat bertugasnya. Tugas tersebut merupakan alasan Allah menciptakan-Nya bukan untuk main-main atau sia-sia, seperti yang tersurat dalam Q.S. al Mu’minun (23:115) sebagai berikut:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?. [2]

Kata ‘abatsan di atas berarti perbuatan yang tidak bermanfaat. Allah menciptakan manusia untuk memiliki kemanfaatan. Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa Allah menciptakan manusia memiliki tujuan karena ada keniscayaan tentang hari pembalasan. Oleh karena itu manusia harus mempertangungjawabkan semua perbuatan yang menjadi tugas dan kewajibannya hanya kepada Allah. Quraish Shihab [3] menyatakan “seandainya Allah tidak memberikan balasan kepada masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya maka tentu hal tersebut mengakibatkan sia-sianya kebaikan yang berbuat baik”. Tugas besar tersebut merupakan tujuan akhir eksistensi manusia dan makna hidupnya di muka bumi.

Dalam al Quran Surat al ahzab, 33:72 Allah telah menyerahkan amanatnya kepada manusia yang sebelumnya ditawarkan kepada langit dan bumi yang tidak mampu melaksanakannya. Lengkapnya sebagai berikut:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

 

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.[4]

Kata amanat pada arti ayat di atas ialah tugas-tugas keagamaan. Oleh karena itu manusia satu-satunya jembatan kosmik dari kehendak Ilahi memasuki dunia ruang waktu dan menjadi sejarah. Ath-Thabathaba’I dalam Quraisy Shihab[5] ketika menafsirkan ayat tersebut, ia mengemukakan bermacam-macam pengertian dari amanah yaitu sebagai berikut:

(1) tugas-tugas atau beban kewajiban, sehingga bila orang mau mematuhinya, maka akan dimasukan ke dalam surge, sebaliknya bila melanggarnya akan dimasukkan ke neraka; (2) akal, yang merupakan sendi bagi pelaksanaan tugas-tugas atau beban kewajiban dan tempat bergantungnya pahala dan sika; (3) kalimah ‘Laa ilaaha illa Allah’; (4) anggota-anggota badan, termasuk didalamnya alat-alat potensial atau potensi-potensi dasar manusia, yang mampu mengemban dan melaksanakan amanah dari Allah yang harus dijaga dan hanya digunakan dalam batas-batas yang diridhai oleh-Nya; (5) ma’rifah kepada Allah. Pengertian yang keempat itulah, menurut Ath thabathaba’I yang lebih mendekati kebenaran.

Sementara Raghib al Asfahani pakar bahasa al Quran mengemukakan pengertian amanah, yaitu (1) kalimah tauhid; (2) adl adalah (menegakan keadilan); (3) akal. Menurut al Asfahani, bahwa pengertian yang ketiga itulah yang benar karena dengan akal bisa tercapai ma’rifah tauhid, bisa terwujudkan keadilan dan mampu menjangkau berbagai ilmu pengetahuan dan sebagainya, bahkan akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. 

Dengan demikian berdasarkan beberapa pendapat ahli tafsir tersebut dapat difahami bahwa amanah Allah itu pada intinya ada dua yaitu mengabdi kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi, yang keduanya harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

            Tugas-tugas keagaamaan yang berupa tanggung jawab dan kewajiban (taklif) yang dibebankan kepada manusia tidak mengenal batas sepanjang menyangkut jangkauan dan ruang tindakannya yang mungkin. Seluruh umat manusia merupakan obyek tindakan moral manusia. Mohammad Irfan dan Mastuki[6] menyatakan “seluruh bumi dan langit adalah ‘panggung’nya. Taklif bagi manusia karenanya bersifat universal. Ia merupakan landasan bagi kemanusiaan manusia”. Penerimaan manusia atas amanat Allah itu menempatkannya pada derajat yang lebih tinggi dibandingkan semua makhluk, termasuk malaikat.

            Mohammad Irfan dan Mastuki menyatakan “manusia memiliki kelebihan dan keunggulan atas makhluk lain terletak pada kepemilikan pengetahuan kreatif dan ilmiah mengenai benda-benda (ilmu eksakta), mengenai susunan batinnya (ilmu kejiwaan) dan mengenai perilaku luar manusia sebagai proses yang berjalan terus dalam masa (ilmu kesejarahan)”. Menurut Ashgar Ali Engineer menyatakan :

Dengan kelebihan ini, manusia sebagai kolaborator Tuhan dalam aktivitas kreatif menemukan medan kenyataan untuk selanjutnya menemukan wilayah-wilayah realitas (dari alam) yang belum terjamah. Ini sejalan dengan perintah Allah, ‘kuasailah apa yang ada di langit dan di bumi’. Proses penguasaan alam semesta pada dasarnya adalah proses pengungkapan wilayah-wilayah realitas baru. Sehingga penemuan dan pemberian nama terhadap benda-benda baru punya makna signifikan dengan penemuan wilayah-wilayah realitas baru tersebut. Lagi-lagi manusia merupakan wakil Tuhan yang aktif dan kreatif dalam membentuk kembali apa yang ia temukan, dan dengan demikian, mengambil bagian dalam proses kreatif Tuhan. 

Taklif dengan begitu mempunyai makna dan relevansi dengan fungsi kosmik manusia. Kehadiran manusia tidak sekedar “ada” di muka bumi melainkan “mengada”nya manusia memiliki tujuan, tugas, dan kewajiban untuk mengemban amanat Allah. Keberadaanya harus mentransformasikan ciptaan ke arah yang sesuai dengan desain Tuhan. Begitu juga halnya dengan pendidikan.

Pendidikan harus diarahkan sesuai dengan desain Tuhan, yaitu menjadikan pendidikan sebagai sebuah proses menuju jiwa tauhid, jiwa yang hanya menerima Allah sebagai satu-satunya Tuhan, jiwa yang menyerahkan hidup dan matinya hanya untuk mengabdi kepada-Nya, jiwa laa ilaaha illa Allah. Seluruh pusat orientasi kehidupan manusia hanya Allah swt.

 

B.     Pembahasan

1.      Tugas Hidup Manusia

a. Ayat yang berkaitan dengan tugas hidup manusia

Berdasarkan pendahuluan di atas, manusia diberikan amanah oleh Allah berupa tugas mulia sebagai khalifah di muka bumi untuk mengelola dan memakmurkan bumi sebagai tempat melaksanakan tugasnya. Dengan pengetahuan kreatifnya manusia diberikan keleluasan dan kebebasan untuk menjalankan tugasnya sebagai penguasa di bumi. Menurut Quraisy Shihab[7] menyatakan:

Kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam al Quran, yaitu dalam al Baqarah 2:30 dan Shad 38:26.  Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh al Quran, yaitu: (a) Khalaif  yang terulang sebanyak empat kali, yakni pada surah al an’am 165, Yunus 14, 73 dan Fathir 39.(b) Khulafa’ terulang sebanyak tiga kali pada surah-surah al ‘araf 7:69, 74 dan al Naml 27:62.

Adapun ayat yang berkaitan dengan manusia sebagai kahlifah di bumi adalah Q.S. al Baqarah, 2:30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [8]

 

Ayat yang lainnya adalah QS. Shad 38:26 sebagai berikut:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ  

Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. [9]

 

Q.S. Al an’am, 6:165

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

 

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [10]

 

b. Arti Kata Khalifah 

         Dalam buku yang berjudul membumikan al Quran karya Quraish Shihab [11] “keseluruhan kata (khalifah, khalaif dan khulafa) berakar dari kata khulafa’ yang pada mulanya berarti ‘di belakang’. Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai ‘pengganti’ (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya)”.

Kata khalifah dalam surat al Baqarah, 2:30 menurut Quraisy Shihab [12]menyatakan :

"Perlu dicatat bahwa kata khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini.

Betapapun, ayat ini menunjukkan bahwa kekhalifahan terdiri dari wewenang yang dianugerahkan Allah swt., makhluk yang diserahi tugas, yakni Adam a.s. dan anak cucunya, serta wilayah tempat bertugas, yakni bumi yang terhampar ini.

Jika demikian kekhalifahan mengharuskan makhluk yang diserahi tugas itu melaksanakan tugasnya sesuai dengan petunjuk Allah yang memberinya tugas dan wewenang. Kebijaksanaan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya adalah pelanggaran terhadap makna dan tugas kekhalifahan.

Menurut Ar Raghib al Asfahani dalam Quraish Shihab [13]dalam mufradat-nya menjelaskan:

Menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesutau atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya. Lebih lanjut pakar bahasa al Quran itu menuliskan bahwa khalifahan tersebut dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan yang digantikan itu, dan dapat juga karena yang digantikan itu memberi kepercayaan dan penghormatan kepada yang menggantikannya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, melainkan karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Adalagi yang memahaninya dalam arti menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi.

Quraish Shihab [14] menyatakan”tidak dapat disangkal oleh para mufasir bahwa perbedaan bentuk-bentuk kata di atas (khalifah, khalif, khulafa) masing –masing mempunyai konteks makna tersendiri, yang sedikit atau banyak berbeda dengan yang lain”. Makna kata khalifah pada ayat-ayat surat Shad, 38:26 yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud. Nabi Daud sebagaimana diceritakan oleh Alquran berhasil membunuh Jalut kemudian Allah memberinya kekuasaan. Masih menurut Quraish Shihab menyatakan ”kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud a.s. bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Ilahi yang mengajarkan kepadanya al hikmah dan ilmu pengetahuan”.

Quraish Shihab[15] menuturkan lebih lanjut :

Makna ‘pengelolaan wilayah tertentu’ atau katakanlah bahwa pengelolaan tersebut berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat-ayat yang menggunakan bentuk khulafa’. Ini berbeda dengan khala’if yang tidak mengesankan adanya kekuasaan semacam itu, sehingga pada akhirnya kita dapat berkata bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh al Quran khalaif, tanpa menggunakan bentuk mufrad. Tidak digunakannya bentuk mufrad untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik tersebut. Hal ini dapat mewujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau dictator.

Ulama Mesir Asy Sya’rawy  [16] mengemukakan kesannya tentang Q.S. al An’am, 6:165 melalui suatu analisis yang menarik ”bertitik tolak dari makna kebahasaan kata khalifah, yakni yang menggantikan. Menurutnya yang menggantikan itu boleh jadi menyangkut waktu, dan boleh jadi juga tempat. Ayat ini dapat berarti pergantian antara sesama makhluk manusia dalam kehidupan dunia ini tetapi dapat juga berarti kekhalifahan manusia yang diterimanya dari Allah swt”.

Asy Sya’rawy[17] menuturkan lebih lanjut tentang  kekhalifahan  manusia:

Tidak memahaminya dalam arti bahwa manusia yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya serta memakmurkan bumi sesuai apa yang digariskan-Nya, tetapi makna kekhalifahan tersebut berkaitan dengan reaksi dan ketundukan bumi kepada manusia. Segala sesuatu tunduk dan bereaksi kepada Allah swt. Sekelumit kekuasan-Nya menundukkan dianugerahkan kepada manusia sehingga sebagian dari ciptaan Allah pun tunduk dan berekasi kepada manusia. Jika Anda menyalakan api maka ia akan menyala, jika anda menabur benih di tanah maka ia akan tumbuh, jika Anda minum makan reaksinya rasa haus Anda hilang……..dan seterusnya.

Asy Sya’rawy[18] dalam penjelasannya menanyakan kepada manusia dari mana kemampuan dan ketundukan tersebut?. Jawabannya sebagai berikut:

Jelas dari Allah swt. melalui perintah-Nya kepada benda-benda itu untuk bereaksi terhadap Anda. Jika demikian Anda adalah khalifah  Allah, yakni khalifah iradat (kehendak). Maksudnya Allah memberi Anda sebagian dari kekuasaan-Nya sehingga sebagaimana apa yang dikehendaki Allah terjadi melalui reaksi sesuatu, Anda pun-untuk batas-batas yang dianugerahkan-Nya- dapat mewujudkan apa yang anda kehendaki melalui perintah Allah kepada benda-benda itu untuk bereaksi terhadap tindakan Anda.

Dalam "membumikan al Quran" Quraish Shihab [19] mengambil kesimpulan sementara:

(1) kata khalifah digunakan oleh al Quran untuk siapa yang diberi kekuasaan mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas. Daud mengelola wilayah Palestina. Adam mengelola bumi keseluruhan pada awal sejarah manusia.

(2) seorang khalifah berpotensi bahkan secara actual dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsunya. Karena itu baik Adam maupun Daud diberi peringatan agar tidak mengikuti hawa nafsu.

 

c. Sifat-Sifat Terpuji Seorang Khalifah 

         Al Tabrasi [20]  mengemukakan  bahwa kata Imam  mempunyai makna yang sama dengan  khalifah. Kata Imam digunakan untuk keteladanan karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan, yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata belakang. Ini berarti kita dapat menelusuri informasi tentang sifat-sifat terpuji seorang khalifah denngan menelusuri ayat-ayat yang menggunakan kata Imam. Ada dua ayat yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam persoalan mencari jawaban tersebut yaitu QS. Al Baqarah 124 dan QS. Al Furqan 74. sebagai berikut:

.....قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".[21]

... وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

….dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[22]

         Pada ayat pertama menggaris bawahi suatu syarat pada kata dhalimin (berlaku aniaya). Keadilan adalah lawan dari penganiayaan. Dengan demikian dapat ditarik satu sifat yaitu sifat adil, baik terhadap diri sendiri, keluarga, manusia dan lingkungan maupun terhadap Allah.

         Quraish Shihab, 2004:165 ada lima sifat pemimpin terpuji dalam surat al anbiya ayat 73 dan al Sajdah ayat 24 yaitu:

(1) Yahduna bi amrina

(2) Wa awhayna ilayhim fi’la al khayrat.

(3) ‘Abidin (termasuk Iqam al Shalat dan Ita’ al Zakat)

(4) Yuqinun

(5) Shabaru

         Dari kelima sifat tersebut al shabr (ketekunan dan ketabahan) dijadikan Tuhan sebagai konsideran pengangkatan Wa ja’alnahum aimmat lamma shabaru. Seakan-akan inilah sifat yang amat pokok bagi seorang khalifah, sedangkan sifat-sifat yang lainnya menggambarkan sifat mental yang melekat pada diri mereka dan sifat-sifat yang mereka peragakan dalam kenyataan.[23]

         Menurut Raghib al Asfahani [24] Yahduna bi amrina mengandung arti memberi petunjuk dan mengantar sekuat kemampuan menuju apa yang dikehendaki oleh yang diberi petunjuk. Ini berarti seorang khalifah minimal mampu menunjukkan jalan kebahagiaan keda umatnya dan lebih terpuji adalah mereka yang dapat mengantarkan umatnya ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau, dengan kata lain seorang khalifah tidak sekedar menunjukkan tetapi mampu pula memberi contoh sosialisasinya. Hal tersebut mereka capai karena kebajikan telah mendarah daging dalam diri mereka. Atau dengan kata lain mereka memiliki akhlak luhur sebagaimana yang difahami dalam sifat kedua wa awhayna ilayhim fi’al al khayrat.

         Quraish Shihab  [25]menyatakan kata Yuqinun dan ‘Abidin merupakan dua sifat yang berbeda. Yang pertama menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dada mereka, sedangkan yang kedua menggambarkan keadaan nyata mereka. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa seorang khalifah yang ideal haruslah memiliki sifat-sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya.

 

2.      Kewajiban Hidup Manusia

a.  Ayat yang berkaitan dengan Kewajiban Hidup manusia

            Al Quran diturunkan Allah kepada umat manusia sebagai pedoman dan tuntunan hidup dan kehidupan. Ketaatan dan ketundukan manusia kepada Sang Khaliq merupakan bukti penyerahan diri manusia atas penciptaannya sebagai makhluk yang diciptakan untuk beribadah. Allah memberikan potensi dasar kepada manusia untuk memiliki kecenderungan memelihara ibadah baik, ibadah yang langsung kepada Allah ataupun melakukan kebaikan kepada sesama manusia dan alam sekitarnya. Adapun ayat yang berkaitan dengan kewajiban hidup manusia sebagai berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.[26]

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh -sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.[27]

 

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

 

Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."[28]

 

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

!Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (jauh dari mempersekutukan Allah dan kesesatan), dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.[29]

 

b. Pengertian Ibadah dalam Alquran

         Allah menciptakan jin dan manusia untuk satu manfaat yang kembali kepada Allah, yaitu agar manusia memiliki tujuan dan kesudahan aktivitas meraka adalah beribadah kepada Allah. Pada QS. Adz Dzariyat, 51:56 Quraish [30]menyatakan:

Ayat di atas menggunakan persona pertama (Aku) setelah sebelumnya menggunakan persona ketiga (Dia/Allah). Ini bukan saja bertujuan menekankan pesan yang dikandungnya tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah melibatkan malaikat atau sebab-sebab lainnya. Penciptaan, pengutusan Rasul, turunnya siksa, rezeki yang dibagikan-Nya melibatkan malaikat dan sebab-sebab lainnya, sedang di sini karena penekanannya adalah beribadah kepada-Nya semata-mata, maka redaksi yang digunakan berbentuk tunggal dan tertuju kepada-Nya semata-mata tanpa memberi kesan adanya keterlibatan selain Allah swt.

Pada QS. Adz Dzariyat, 51:56 dalam Quraish Shihab [31] “kata ‘li ya’buduun’ pada ayat di atas dinamai oleh pakar-pakar bahasa lam al ‘aqibah, yakni yang berarti kesudahan atau dampak dari akibat sesuatu”. Syekh Muhammad Abduh dalam Quraish Shihab [32] menjelaskan “ibadah bukan hanya sekedar ketaatan atau ketundukan tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya”. 

Thabathaba’I dalam Quraish Shihab [33] mengomentari pendapat yang menjadikan lam pada kata li ya’budun bermakna agar supaya/ tujuan, maka itu berarti tujuan ibadah adalah Allah menciptakan manusia dan tentu saja mustahil tujuan yang dikehendaki-Nya tidak tercapai. Dalam kenyataan banyak sekali yang tidak beribadah kepada-Nya. Menurut Thabathaba’I dalam Quraish Shihab “ini adalah bukti yang sangat jelas bahwa huruf lam pada ayat di atas bukan dalam arti agar supaya atau mengandung makna tujuan atau kalau pun ia mengandung makna tujuan maka yang dimaksud dengan ibadah adalah ibadah dari segi penciptaan (bukan dari segi taklif/ pembebanan tugas)”.

Keberatan yang diungkap Thabathaba’I atas nama penolak pendapatnya pun ditangkis oleh ulama itu. Dia menulis bahwa :

Keberatan di atas-yakni dalam kenyataan banyak sekali yang tidak beribadah kepada-Nya- dapat dibenarkan bila yang dimaksud dengan alif dan lam pada kedua kata al jinn wa al ins adalah alif dan lam yang berarti istighraq tetapi lil jins sehingga adanya sebagian dalam kedua jenis makhluk itu yang beribadah sudah cukup untuk menjadikan tujuan penciptaan mereka adalah beribadah, walau sebagian yang lain tidak beribadah. Memang kalau semua jenis manusia dan jin -kesemuanya- tidak beribadah maka tujuan tersebut tidak tercapai. Allah swt. Mempunyai tujuan dalam penciptaan-Nya bagi jenis manusia sebagaimana Dia pun mempunyai tujuan bagi setiap anggota jenis itu.

 

Selanjutnya Thabathaba’I berpendapat bahwa menjadikan makna ibadah pada ayat di atas dalam arti ibadahtakwiniyah (bukan dari segi taklif) maka ini pun tidak tepat karena itu adalah sikap semua makhluk. Dengan demikian tidak ada alasan untuk menjadikan ayat di atas menetapkan tujuan tersebut hanya bagi jin dan manusia, apalagi konteks ayat ini adalah kecaman kepada kaum musyrikin yang enggan beribadah kepada Allah dengan mematuhi syariat-Nya. Ayat ini dikemukakan dalam konteks ancaman kepada mereka atas penolakan mereka terhadap keniscayaan Kiamat, hisab/perhitungan Allah serta balasan dan ganjaran-Nya, dan itu semua berkaitan dengan ibadah taklifiyah yang di syariatkan bukan takwiniyah.

Akhirnya Thabathaba’I menyampaikan pendapatnya:

Bahwa yang dimaksud dengan menciptakan mereka untuk beribadah adalah menciptakan mereka memiliki potensi beribadah. Ibadah yang dimaksud adalah kehadiran dihadapan Allah Rabbul ‘Alamin dengan kerendahan diri dan penghambaan kepada-Nya serta kebutuhan sepenuhnya kepada Tuhan Pemilik Kemuliaan Mutlak dan Kekayaan Murni sebagaimana –boleh jadi- difahami dari fiman-Nya QS. Al Furqan, 25:77 :

 

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

 

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu.

Hakikat ibadah adalah menempatkan diri seseorang dalam kedudukan kerendahan dan ketundukan serta mengarahkannya ke arah maqam Tuhannya. Inilah yang dimaksud oleh mereka yang menafsirkan kata ibadah dengan ma’rifat yang dihasilkan oleh ibadah. Yang dimaksud dengan tujuan yakni bertujuan memberi kesempurnaan bagi ciptaan bukan bagi sang pencipta.

Sayyid Quthub[34] menegaskan ayat tersebut walaupun sangat singkat namun mengandung hakikat yang besar dan agung. Ibadah bukan hanya terbatas pada pelaksanaan tuntunan ritual, karena jin dan manusia tidak menghabiskan waktunya untuk kegiatan tersebut. Mereka diwajibkan melaksanakan aneka kegiatan yang lain yang menyita sebagain besar hidup mereka. Memang kita tidak dapat mengetahui persis batas-batas dari aktivitas yang bebankan kepada jin. Tetapi kita dapat mengetahui batas-batas yang diwajibkan kepada manusia yaitu memakmurkan bumi, mengenal potensinya dan perbendaharaan yang terpendam di dalamnya. Sayyid Quthub menyimpulkan hakikat ibadah mencakup dua hal pokok:

Pertama: Kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan. Kemantapan perasaan bahwa ada hamba ada Tuhan, hamba yang patuh dan Tuhan yang disembah (dipatuhi). Tidak selainnya. Tidak ada dalam wujud ini kecuali satu Tuhan dan selain-Nya adalah hamba-hamba-Nya.

Kedua: Mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup. Semuanya hanya mengarah kepada Allah secara tulus. ………… Dan menjadikan setiap amal bagaikan ibadah ritual dan setiap ibadah ritual serupa dengan memakmurkan bumi, memakmurkan bumi serupa dengan jihad di jalan Allah dan jihad seperti kesabaran menghadapi kesulitan dan ridla menerima ketetapan-Nya semua itu adalah ibadah.

Berdasarkan pendapat para mufasir, ibadah bukan hanya sekedar melaksanakan aktivitas maghdhah dan ghair maghdhah tapi bisa lebih jauh dari itu, yaitu menghadirkan Allah dengan kerendahan diri karena kita butuh terhadap-Nya dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia.

 

c. Tujuan Ibadah Bagi Manusia

         Menurut Khairullah  menyatakan Ibadah pada hakikatnya dalam rangka tiga hal yaitu membina diri, mensucikan diri, dan mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, perbuatan baik, dan perbuatan berpahala. Yang dimaksud dengan membina diri adalah mendidik dirinya untuk membina hubungan dengan sesama, lingkungan dan penciptanya. Sedangkan yang dimaksud dengan mensucikan diri adalah mensucikan diri dari perbuatan-perbuatan kotor, mensucikan diri dari perbuatan-perbuatan kotor, dan membersihkan diri dari perbuatan dosa. Yang di maksud dengan mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, perbuatan baik, dan perbuatan berpahala adalah menjaga husbungan baik dengan diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan Allah.

 

 

 

 

 

 

3.      Implikasi Tugas Dan Kewajiban Hidup Manusia Terhadap Pendidikan

Quraish Shihab[35] menyatakan bahwa manusia merupakan kesatuan dua unsur pokok, yang tidak dapat dipisahkan karena bila dipisahkan maka bukan manusia lagi. Sebagaimana air yang merupakan perpaduan antara oksigen dan hydrogen dalam kadar-kadar tertentu. Bila kadar oksigen dan hydrogen dipisahkan maka ia tidak akan menjadi air lagi. Adapun manusia adalah kesatuan antara jasmani dan Ruh Ilahi (akal dan Ruhani).

Berkenaan pandangan di atas maka pendidikan harus dibangun atas landasan yang benar dari pandangan dunia tauhid. Moh Irfan [36] menyatakan “pendidikan dalam pandangan tauhid adalah pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Ilahiah (teologis) sebagai landasan etis-normatif dan nilia-nilai insaniah (antropo-sosiogis) dan alamiah (kosmologis) sebagai basis praksis-operasional”. Berdasarkan perspektif tersebut dapat diambil formulasi bahwa pendidikan berfungsi untuk mentransformasikan setiap individu anak didik menjadi manusia tauhid, yaitu memiliki sifat-sifat mulia dan komitmen kepada penegakan kebenaran dan keadilan.  Manusia tauhid manusia yang memiliki jiwa Laa ilaaha illa Allah,  sebagai inti tauhid. Moh Irfan[37] menyatakan berbagai atribut manusia tauhid yang diharapkan lahir dari rahim pendidikan adalah:

Pertama, memiliki komitmen utuh, tunduk, dan patuh pada Allah. Ia berusaha secara maksimal mejalankan pesan dan perintah Tuhan sesuai dengan kadar kemampuannya.Kedua, menolak segala pedoman dan pandangan hidup yang bukan datang dari Allah.Ketiga, bersikap progresif dengan selalu melakukan penilaian terhadap kualitas hidupnya, adat istiadat, tradisi, dan faham hidupnya.Keempat, tujuan hidupnya amat jelas. Ibadahnya, kerja kerasnya, hidup dan matinya selalu ditujukan untuk dan demi Allah semata. Kelima, manusia tauhid memiliki visi dan misi yang jelas tentang kehidupan yang harus dibangun bersama-sama manusia lainnya, yaitu suatu kehidupan yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.

Berdasarkan pandangan di atas pendidikan dalam kerangka tauhid harus melahirkan dua kemestian strategis sekaligus, yaitu menjaga keharmonisan untuk meraih kehidupan yang abadi dalam hubungannya dengan Allah serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan dalam hubungannya dengan alam lingkungan dan sesamanya. Dengan kata lain pendidikan diarahkan pada dua dimensi yaitu dimensi ketundukan vertical dan dialektika horizontal. Pada dimensi pertama pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan pengertian tentang asal-usul, tujuan, tugas dan kewajiban manusia dalam mencapai hubungan dengan Allah. Sedangkan dimensi berikutnya pendidikan hendaknya mengembangkan pemahaman tentang kehidupan konkrit yaitu kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam dan lingkungan sosialnya. Pada dimensi ini manusia harus mampu mengatasi tantangan dan kendala dunia riil dengan seperangkat kemampuan yang dimiliki (pengetahuan, keterampilan, moral dan kepribadian). Kemampuan-kemampuan ini tidak lain hanya bisa diperoleh dari proses pendidikan.

Pendidikan pada dasarnya adalah proses rekayasa atau rancang bangun kepribadian manusia. Maka kedudukan manusia dalam proses pendidikan menjadi sangat sentral. Begitu sentralnya kedudukan manusia dalam proses pendidikan maka fungsi pendidikan terutama berkepentingan mengarahkan manusia pada tujuan-tujuan tertentu dan menemukan tujuan hidup, tugas hidup dan kewajiban hidupnya.

Moh. Irfan[38] menyatakan, Islam menawarkan konsep positif-optimistik tentang manusia. Pertama, al Quran secara kategorikal mendudukan manusia ke dalam dua fungsi pokok yaitu sebagai ‘Abd Allah (hamba Tuhan) dan khalifat Allah fi al ardh (duta Tuhan di muka bumi). Konsep ‘Abd Allah mengacu pada tugas-tugas manusia sebagai hamba Allah. Ini diwujudkan dengan bentuk pengabdian yang bersifat ritual kepada Allah (ibadah). Sementara predikat khalifah Allah yang diberikan kepada manusia seolah-olah Allah mempercayakan kekuasaan-Nya kepada manusia untuk mengatur bumi ini. Dengan demikian manusia harus mempertanggung jawabkan segala tugas dan kewajibannya hanya kepada Allah swt.

Menggunakan kerangka pandang tersebut, konsep khalifah menjadi relevan untuk pemberdayaan fungsi kemanusiaan manusia sebagai makhluk historis. Berdasarkan kerangka pemikiran ini juga maka pendidikan dapat diartikan sebagai proses penyadaran akan fungsi-fungsi, tugas dan kewajiban manusia sebagai ‘Abd Allah dan khalifah Allah. Pelaksanaan fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah tidak boleh dipertentangkan tetapi ditempatkan sebagai satu kesatuan dalam paradigma tauhid. Keduanya memerlukan hubungan dialektika yang akan mengantarkan manusia pada puncak eksistensi manusia.

Dengan demikian bangunan pendidikan semestinya dilandasi dan sekaligus hendak mengarahkan manusia pada tiga pola hubungan fungsional, yaitu manusia dengan Allah (hablun min Allah,  aspek teologis), hubungan manusia dengan sesamanya (hablun min al nas, aspek antropo-sosiologis), dan hubungan manusia dengan alam (hablun min al alam, aspek kosmologis). Dalam bahasa yang mudah dimengerti hubungan pertama disebut keberagamaan, hubungan kedua disebut kebersamaan, dan hubungan ketiga disebut kemitraan.

Rasulullah saw. bertindak sebagai penerima Al Quran dan bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, yaitu menyucikan dan mengajarkan manusia. Menyucikan dapat diidentikan dengan mendidik sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan jasmani, akal dan ruhani.  Tujuan yang ingin dicapai dari penyucian dan pengajaran tersebut adalah pengabdian kepada Allah sejalan dengan kewajiban hidup manusia yang ditegaskan oleh Al Quran dalam surat Al Dzariyat 56: Aku tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk menjadikan tujuan akhir segala aktivitasnya sebagai pengabdian kepada-Ku.

Aktivitas yang dimaksud adalah yang terkandung dalam QS. Al Baqarah ayat 30: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi, dan QS Hud 61: Dan dia menciptakan kamu dari tanah dan menugaskan kamu untuk memakmurkannya. Artinya manusia yang dijadikan khalifah oleh Allah bertugas untuk memakmurkan atau membangun bumi sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan-Nya, yaitu Allah.

Atas dasar inilah, tujuan pendidikan dalam al Quran merancang manusia dengan cara membina secara pribadi dan kelompok agar mampu menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai khalifah dan hamba Allah guna membangun dunia sesuai dengan yang ditetapkan Allah. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur jasmani dan Ruh Ilahi (akal dan ruhani). Pembinaan ruhani menghasilkan kesucian dan etika, pembinaan akal menghasilkan ilmu, dan pembinaan jasmani menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut terciptalah makhluk yang seimbang dunia dan akhirat, ilmu dan iman.

Berdasarkan pandangan di atas, sesungguhnya pendidikan merupakan basis yang kokoh bagi pengembangan pendidikan yang lebih manusiawi. Dalam konteks makro pendidikan, pandangan manusia setidaknya mengandung empat implikasi mendasar, yaitu:

Pertama, implikasi yang berkaitan dengan visi dan orientasi pendidikan di masa depan. Berdasarkan konsep fitrah, pendidikan menurut pandang Islam adalah pendidikan yang diarahkan pada upaya optimalisasi dasar manusia secara keseluruhan. Pendidikan bukan hanya diarahkan semata-mata untuk pengembangan manusia pada materi yang menekankan aspek akal dan jasmani. Demikian juga pendidikan bukan hanya pengayaan aspek ruhani demi tercapainya manusia yang shaleh. Islam menolak pendidikan yang sifatnya dualism dikotomik yang melihat manusia secara parsial. Karena muatan pendidikan yang mementingkan salah satu aspek akan menghasilkan kepribadian yang pecah (split of personality). Kecenderungan ini akan mengakibatkan kepribadian yang hampa, pintar secara akal tetapi kering secara ruhani. Siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang objektif dan terlepas dari nilai-nilai moralitas, spiritual dan religiusitas. Karena itu pendidikan merupakan upaya rekayasa manusia atau merancang bangun manusia maka harus berjalan secara simultan, sistemik dan relasional dalam rangka keutuhan manusia sesuai dengan fitrahnya.

Implikasi kedua terletak pada tujuan (ultimate goal) pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya diarahkan pada ketercapaian tujuan, kewajiban dan tugas hidup manusia dalam al Quran, yaitu mardhotillah, Abd Allah, dan Khalifah fi al ardh. Banyak para ahli khususnya para ahli pendidikan Islam merumuskan tujuan pendidikan, misalnya Syeh Naquib al Attas menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik (shaleh). Sementara menurut Munir  Mursyi melahirkan manusia yang sempurna (insan kamil). Athiyah al Abrasyi menghendaki manusia yang berakhlak mulia (akhlak al karimah). Abdul Fattah Jalal menghendaki terwujudnya manusia sebagai hamba Allah (‘abd Allah) sebagai hasil proses pendidikan. Ahmad D. Marimba menghendaki manusia yang berkepribadian muslim.

Tujuan pendidikan yang dihekendaki para ahli pendidikan Islam sangat ideal dan memiliki makna yang luas dan mendalam. Oleh karena itu kalimat yang digunakan oleh mereka bersifat abstrak maka harus diturunkan pada kata-kata operasional yang mendekati tujuan yang dikehendaki. Apapun kalimatnya, tujuan pendidikan diorientasikan pada proses pengembangan kepribadian yang utuh dan seimbang sebagaimana tujuan pendidikan bukan hanya sekedar konsep abstrak tetapi menemukan keberartian yang konkrit dalam kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan, kepribadian yang seimbang akan tercapai bila terpenuhinya aspek-aspek secara seimbang yaitu jasmani dan Ruh Ilahi atau  fisik-biologis dan mental-moral-spiritual.

Implikasi ketiga dari pandangan kemanusiaan di atas adalah muatan materi. Materi pendidikan yang merupakan bagian dari kurikulum merupakan suatu sistem nilai yang seharusnya diberikan dan disosialisasikan serta ditransformasikan sehingga menjadi hak milik anak didik. Materi pendidikan secara garis besar hendaknya di desain untuk membentuk manusia yang sadar akan tujuan, kewajiban dan tugas hidupnya sebagai manusia, yaitu fungsi ibadah dan khalifah. Dengan demikian materi pendidikan materi yang sifatnya utuh untuk faham tauhid.

 Implikasi keempat, metodologi pendidikan. Metode yang digunakan harus dipilih dan ditetapkan dengan mempertimbangkan karakteristik manusia yang bertauhid. Yaitu metode yang dapat membimbing anak didik mengembangkan potensi dirinya (fitrah) untuk memenuhi kodratnya sebagai ‘abd Allah dan khalifat Allah fi al ardh. Bimbingan artinya kesediaan berdialog dengan anak didik dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Oleh karena itu bimbingan sebagai aplikasi metodologis harus memberikan alternative, selain memberi keleluasaan kepada anak didik untuk memilih yang lurus untuk kehidupan masa depan. 

Implikasi kelima, guru yang bertauhid. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Sehebat apapun materi pendidikan harus diimbang oleh guru yang memiliki ruh tauhid. Guru yang hidup dan matinya hanya untuk Allah. Guru yang tujuan hidupnya untuk mendapatkan keridhoan Allah. Ini menjadi modal yang sangat utama karena menjadi guru merupakan panggilan jiwa. Dia tidak berfikir pada sisi financial, adapun yang ia peroleh adalah efek dari yang sudah dia kerjakan.

 

C.    Penutup

Pendidikan merupakan rekayasa insaniah yang harus berjalan secara simultan, sistemik dan relasional dalam kerangka keutuhan manusia sesuai dengan fitrahnya. Dengan demikian pendidikan merupakan proses penyadaran akan fungsi-fungsi kemanusiaan manusia yang memiliki tugas dan kewajiban sebagai ábd Allah dan khalifah Allah.  Oleh karena itu pendidikan diorientasikan pada proses pengembangan kepribadian yang utuh dan seimbang sebagaimana tujuan pendidikan bukan hanya sekedar konsep abstrak tetapi menemukan keberartian yang konkrit dalam kehidupan manusia. Konsep tugas dan kewajiban manusia harus berimplikasi terhadap proses pendidikan, yaitu visi dan orientasi pendidikan, tujuan, materi atau kurikulum, dan metodologi yang diterapkan. Sehingga akan memperoleh kepribadian yang seimbang yaitu terpenuhinya domain-domain secara seimbang yaitu fisik-biologis dan mental-moral-spiritual.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2000. Tafsir Al Quranul Majid An Nuur. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Vol I. III.

Depag, RI.2011.Al Quran Tajwid Dan Terjemah.. Bandung: Diponegoro.

Irfan, Mohammad. 2003. Teologi Pendidikan: Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. tanpa kota: Friska Agung Insani. cet. II.

Khairullah. 2011. Peran Manusia. Artikel.

Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Cet.ke-5.

Shihab, Quraish. 1995. Membumikan Al Quran: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan. Cet. III

Shihab, Quraish. 2004. Membumikan Al Quran: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan. Cet. XXVIII

Shihab, Quraish. 2008. Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al Quran. Jakarta: Lentera Hati. Cet. X. Vol. I, IV, V, VI, IX, XIII, XV.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Shihab, Quraish. 2013. Wawasan Al Quran, Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan

 

 

 

 



[1] Depag RI,2011 :478

[2] Depag RI,2011 :279

[3] Quraish Shihab. Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al Quran. (Jakarta: Lentera Hati, 2008) hlm. 270

[4]  Depag RI, 2011: 341

[5] Quraisy Sihab…….hlm.267

[6] Mohammad Irfan,  Teologi Pendidikan: Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. (tanpa kota: Friska Agung Insani, 2003), hlm. 65.

[7] Shihab, Quraish. Membumikan Al Quran: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. (Bandung: Mizan. Cet. III, 1995), hlm. 156-157.

 

[8] Depag RI.,2011:6

[9] Depag RI.,2011:363

[10] (Depag RI.,2011:165)

[11] Quraisy Shihab, membumikan… …hlm.157

[12] Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al Quran. (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 142

[13] Quraisy Shihab, Tafsir Al-misbah….hlm. 373

[14] Quraisy Sihab, Membumikan….hlm. 157

[15] Quraisy Sihab, Membumikan …hlm. 157-158

[16] Quraisy Shihab, tafsir al misbah…hlm. 373-374.

[17] Quraisy Shihab, tafsie al-misbah…hlm.374

[18] Quraisy Shihab, Tafsir al-misbah…hlm379.

[19] Qraisy Sihab, Membumikan…hlm. 158 

[20] Quraisy Shihab, Membumikan…hlm.163.

[21] Q.S. Al Baqarah, ayat 124.

[22] .Q.S.  Al Furqan, ayat 74.

[23] Quraish Shihab, Membumikan…hlm. 165.

[24] Quraish Shihab, Membumikan…hal. 1635

[25] Quraish Shihab , Membumikan,….hal. 166.

[26] QS. Adz dzariyat 51: 56

[27] QS. An Nuur, 24:55

 

[28] QS. Huud, 11:61

 

[29] QS. al Bayinah, 98:5

[30] Shihab , Tafsir Al-Misbah…hlm. 355

[31] Quraisy Sihab, Tasfsir….hlm 356.

[32] Quraisy Sihab, Tasfsir….hlm 356.

[33] Quraish Shihab, TAfsir…..hlm. 357.

[34] Quraish Shihab, Tafsir….hlm. 360

[35] Quraish Shihab, Wawasan Al Quran, Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat. (Bandung: Mizan, 2013), hlm. 372-373)

[36] Mohammad Irfan, Teologi Pendidikan: Tauhid Sebagai Paradigma Pendidikan Islam. (tanpa kota: Friska Agung Insani. cet. II. 2003) hlm.109

[37] Muhammad Irfan, Teologi…hlm. 109.

[38] Nohammad Irfan, Teologi…hlm. 133.